Rohaniwan terkemuka, Romo FX Mudji Sutrisno, telah berpulang di Rumah Sakit Carolus, Jakarta Pusat, pada Minggu, 28 Desember 2025. Berusia 71 tahun, beliau pergi setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Kehilangannya meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang mengenal dan menghormatinya sebagai sosok yang inspiratif.
Informasi tentang kepergian Romo Mudji menyebar cepat di antara para pengikutnya dan masyarakat luas. Dijadwalkan pemakaman beliau akan diadakan di Taman Maria Ratu Damai di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, pada 31 Desember mendatang.
Misa Requiem sebagai bentuk penghormatan akan berlangsung di Colese Canisius, Menteng, Jakarta Pusat pada 29 dan 30 Desember. Misa ini memiliki makna khusus dalam tradisi Gereja Katolik, sebagai upaya untuk mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal.
Sekilas Mengenai Romo FX Mudji Sutrisno
Romo Mudji lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954. Dalam perjalanan hidupnya, ia mengukir banyak prestasi, termasuk meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Gregoriana di Italia.
Selain sebagai rohaniwan, beliau juga terlibat dalam dunia akademis dan dikenal sebagai dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Di sinilah beliau mengambil peran penting dalam membentuk generasi intelektual baru.
Kiprahnya tidak hanya terbatas pada pengajaran, Romo Mudji juga pernah duduk sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2005 sebelum memilih untuk kembali fokus pada pendidikan. Keputusannya tersebut menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia.
Karya-Karya dan Kontribusi Romo Mudji
Selama hidupnya, Romo Mudji banyak menulis dan menerbitkan buku. Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah “Ziarah Anggur”, sebuah kumpulan puisi yang ditulis bersama Willy Hangguman. Karya ini menjadi salah satu referensi penting dalam dunia kesusastraan.
Buku lainnya, seperti “Tu(l)ah Kata”, “Sunyi yang Berbisik”, dan “Ranah Filsafat & Kunci Kebudayaan”, juga memperlihatkan kedalaman pemikiran dan sensitivitas beliau terhadap masalah sosial dan budaya.
Seorang budayawan sejati, Romo Mudji merupakan pelukis yang aktif berpartisipasi dalam pameran seni. Salah satu pameran yang diikutinya adalah “Dari Gereja ke Gereja”, yang digelar pada 16-25 September 2025, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengeksplorasi tema-tema spiritual dan kebudayaan.
Warisan yang Ditinggalkan
Kehilangan Romo Mudji bukan hanya dirasakan oleh kalangan rohaniwan, tetapi juga oleh masyarakat luas yang terinspirasi oleh ajaran dan karya-karyanya. Beliau memegang peranan penting dalam pembentukan pemikiran kritis di Indonesia.
Pendidikan yang ditegakkannya akan menjadi landasan bagi generasi mendatang. Banyak muridnya yang akan meneruskan idealisme dan pemikiran yang telah ditanamkan selama ini.
Komitmen beliau terhadap kebenaran dan keadilan akan terus dikenang oleh banyak orang. Romo Mudji adalah teladan dalam pengabdian dan dedikasi kepada masyarakat dan Tuhan.
